BAB 1
PENDAHULUAN
11. Latar Belakang
.
Didalam makalah ini kami akan membahas
mengenai sosiologi sastra. Sedikit akan saya bahas mengenai sosiologi sastra.
Sosiologi adalah pengetahuan atau ilmu tentang sifat, perilaku, dan
perkembangan masyarakat, ilmu tentang struktur sosial, proses sosial, dan
perubahannya. Sosiologi sastra adalah karya sastra para kriktikus dan sejahrawan
yang terutama mengungkapkan pengarang yang di pengaruhi oleh status lapisan
masyarakat tempat yang berasal, idiologi politik dan sosialnya, kondisi ekonomi
serta khalayak yang ditujunya.
Saya membahas mengenai definisi sastra, sejarah,
manfaat mengenai sosiologi sastra yang akan menambah pengetahuan pembaca. Bahwa
telah banyak penelitian yang membahas mengenai sosiologi sastra, namun saya
akan mencoba mengulas tentang materi ini. Sosiologi sastra sesungguhnya sangat
bermanfaat bagi perkembangan sastra maupun untuk penelitian. Untuk itu saya
memilih materi ini.
1.2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang
terdapatdi dalam makalah ini yaitu:
1. Apakah yang dimaksud dengan definisi
Sosiologi Sastra ?
2. Bagaimana perkembangan sejarah Sosiologi
Sastra ?
3. Apa saja teori pendekatan dalam
Sosiologi Sastra ?
1.3. Tujuan Masalah
1. Dapat mengetahui tentang definisi Sosiologi sastra.
2
Dapat memahami tentang perkembangan sejarah Sosiologi sastra.
3. Dapat mempelajari teori-teori
pendekatan dalam pelajaran Sosiologi sastra dan dapat menerapkannya dalam
kehidupan sehari-hari.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Definisi Sosiologi Sastra
Sosiologi sastra
berasal dari kata sosiologi dan sastra. Sosiologi berasal dari
kata sos (Yunani) yang berarti bersama, bersatu, kawan, teman, dan logi
(logos) berarti sabda, perkataan, perumpamaan. Sastra dari akar kata sas
(Sansekerta) berarti mengarahkan, mengajarkan, memberi petunjuk dan instruksi.
Akhiran tra berarti alat, sarana. Merujuk dari definisi tersebut,
keduanya memiliki objek yang sama yaitu manusia dan masyarakat. Meskipun
demikian, hakikat sosiologi dan sastra sangat berbeda bahkan bertentangan
secara dianetral. Sosiologi adalah ilmu objektf kategoris, membatasi diri pada
apa yang terjadi dewasa ini (das sain) bukan apa yang seharusnya terjadi
(das solen). Sebaliknya karya sastra bersifat evaluatif, subjektif, dan
imajinatif.
Sosiologi
sastra merupakan pendekatan yang bertolak dari orientasi kepada semesta, namun
bisa juga bertolak dari orientasi kepada pengarang dan pembaca. Sosiologi adalah pengetahuan atau ilmu tentang sifat,
perilaku, dan perkembangan masyarakat, ilmu tentang struktur sosial, proses
sosial, dan perubahannya. Sosiologi sastra adalah karya sastra para kriktikus
dan sejahrawan yang terutama mengungkapkan pengarang yang di pengaruhi oleh
status lapisan masyarakat tempat yang berasal, idiologi politik dan sosialnya,
kondisi ekonomi serta khalayak yang ditujunya.
2.2. Sejarah Sosiologi Sastra
Istilah
kesusastraan seperti yang kita pahami sekarang berasal dari tahun-tahun
terakhir abad XVIII. Semula orang tidak “membuat” kesusastraan tetapi
“memiliki”. Ia merupakan ciri keanggotaan pada kategori orang-orang yang
“bersastra” (lettres). Untuk orang yang sezaman dengan Voltaire,
kesusastraan adalah lawannya “publik” atau dengan kata lain rakyat. Jadi, yang
dimaksud adalah aristokrasi budaya. Maka mengingat bahwa kenyataan itu sendiri
adalah fakta sosial, masalah hubungan kesusastraan dan masyarakat tidak
dipermasalahkan. Sejak abad XV telah terjadi suatu evolusi yang bergerak lebih
cepat pada abad XVIII.
Disatu pihak,
ketika pengetahuan menjadi terkotak-kotak dalam spesialisasi, proyek-proyek
sains dan teknik cenderung berangsur-angsur terpisah dan kesusastraan yang
sesungguhnya, sehingga cakupannya menciut dan terbatas pada hiburan saja. Sejak
itu, karena seolah-seolah ditinggal sendiri, kesusastraan berusaha untuk
membina hubungan baru dengan kolektifitas atau masyarakat. Di pihak lain, kemajuan-kemajuan
budaya dan teknik tadi telah membuat kesusastraan lebih terpuruk. Di kalangan
masyarakat pemakai kebutuhan akan sastra justru meningkat, dan melipat gandakan
alat pengembangannya. Berkat ditemukannya percetakan, perkembangan industry buku,
berkurangnya jumlah aksara, dan belakangan perkembangan teknik audio-visual apa
yang semula merupakan hak istimewa dari suatu golongan aristokrasi yang
“bersastra” berkembang menjadi kegiatan budaya dari golongan elit borjuis yang
relatif lebih terbuka, lalu pada masa terakhir, alat promosi intelektual untuk
masyarakat luas.
Spesialisasi tersebut
disatu pihak dan penyebarannya dipihak lain, mencapai titik kritis disekitar
tahun 1800. Pada masa itulah mulai disadari orang dimensi sosial kesusastraan.
Karya Madame de Stael yang diterbitbak waktu itu “De la literature
considereedans ses rapports avec les institutions socials” ‘Kesusastraan
ditinjau dari hubungannya dengan lembaga-lembaga sosial’, mungkin menrupakan
usaha pertama di Prancis untuk menghimpun masalah sastra dan masyarakat dalam
suatu studi yang sistematis.
2.3.Teori Pendekatan Sosiologi Sastra
Berikut adalah teori pendekatan sosiologi sastra menurut
para ahli:
·
Ratna (2003:2) ada
sejumlah definisi mengenai sosiologi sastra yang perlu dipertimbangkan dalam
rangka menemukan objektivitas hubungan antara karya sastra dengan masyarakat,
antara lain:
1. Pemahaman terhadap karya sastra dengan
pertimbangan aspek kemasyarakatannya.
2. Pemahaman terhadap totalitas karya yang
disertai dengan aspek kemasyarakatan yang terkandung didalamnya.
3. Pemahaman terhadap karya sastra
sekaligus hubungannya dengan masyarakat yang melatar belakanginya.
4. Sosiologi sastra adalah hubungan dua
arah (dialektik) antara sastra dengan masyarakat.
5. Sosiologi sastra berusaha menemukan
kualitas interdependensi antara sastra dengan masyarakat.
·
Wellek dan Warren
(1956: 84, 1990: 111) membagi sosiologi sastra sebagai berikut :
1. Sosiologi pengarang, profesi pengarang,
dan institusi sastra, masalah yang berkaitan disini adalah dasar ekonomi
produksi sastra, latar belakang sosial status pengarang, dan idiologi pengarang
yang terlibat dari berbagai kegiatan pengarang diluar karya sastra, karena
setiap pengarang adalah warga masyarakat, ia dapat dipelajari sebagai makhluk
sosial. Biografi pengarang adalah sumber utama, tetapi studi ini juga dapat
meluas ke lingkungan tempat tinggal dan berasal. Dalam hal ini, informasi
tentang latar belakang keluarga, atau posisi ekonomi pengarang akan memiliki
peran dalam pengungkapan masalah sosiologi pengarang (Wellek dan Warren, 1990:
112)
2. Sosiologi karya sastra yang
memasalahkan karya sastra itu sendiri yang menjadi pokok penelaahannya atau apa
yang tersirat dalam karya sastra dan apa yang menjadi tujuannya. Pendekatan
yang umum dilakukan sosiologi ini mempelajari sastra sebagai dokumen sosial
sebagai potret kenyataan sosial. (Wellek dan Warren, 1990: 122) Beranggapan
dengan berdasarkan pada penelitian Thomas Warton (penyusun sejarah puisi
Inggris yang pertama) bahwa sastra mempunyai kemampuan merekam ciri-ciri
zamannya. Bagi Warton dan para pengikutnya sastra adalah gudang adat-istiadat,
buku sumber sejarah peradaban.
3. Sosiologi sastra yang memasalahkan
pembaca dan dampak sosial karya sastra, pengarang dipengaruhi dan mempengaruhi
masyarakat, seni tidak hanya meniru kehidupan, tetapi juga membentuknya. Banyak
orang meniru gaya hidup tokoh-tokoh dunia rekaan dan diterapkan dalam
kehidupannya.
·
Klasifikasi Wellek
dan Warren sejalan dengan klasifikasi Ian Watt (dalam Damono, 1989 : 3-4) yang
meliputi hal-hal berikut:
1. Konteks Sosial Pengarang
Ada kaitannya dengan posisi sosial sastrawan dalam
masyarakat, dan kaitannya dengan masyarakat, pembaca termasuk juga faktor-faktor
sosial yang dapat mempengaruhi karya sastranya, yang terutama harus diteliti
yang berkaitan dengan :
o Bagaimana pengarang mendapat mata pencahariannya, apakah ia
mendapatkan dari pengayoman masyarakat secara langsung, atau pekerjaan yang lainnya;
o Profesionalisme dalam kepengaragannya; dan
o Masyarakat apa yang dituju oleh pengarang.
2. Sastra Sebagai Cermin Masyarakat
Maksudnya seberapa jauh sastra dapat dianggap cermin keadaan
masyarakat. Pengertian “cermin” dalam hal ini masih kabur, karena itu, banyak
disalah tafsirkan dan disalah gunakan. Yang harus diperhatikan dalam
klasifikasi sastra sebagai cermin masyarakat adalah :
1. Sastra mungkin tidak dapat dikatakan
mencerminkan masyarakat pada waktu ditulis, sebab banyak ciri-ciri masyarakat
ditampilkan dalam karya itu sudah tidak berlaku lagi pada waktu ia ditulis;
2. Sifat “lain dari yang lain” seorang pengarang
sering mempengaruhi pemilihan dan penampilan fakta-fakta sosial dalam karyanya;
3. Genre sastra sering merupakan sikap sosial
suatu kelompok tertentu, dan bukan sikap sosial seluruh mayarakat;
4. Sastra yang berusaha untuk menampilkan
keadaan masyarakat secermat-cermatnya mungkin saja tidak dapat dipercaya
sebagai cermin masyarakat.
Sebaliknya, sastra yang sama sekali tidak dimaksudkan untuk
menggambarkan masyarakat mungkin masih dapat digunakan sebagai bahan untuk
mendapatkan informasi tentang masyarakat tertentu. Dengan demikian, pandangan
sosial pengarang diperhitungkan jika peneliti karya sastra sebagai cermin masyarakat.
3. Fungsi
Sosial Sastra
Maksudnya seberapa jauh nilai sastra berkaitan dengan
nilai-nilai sosial. Dalam hubungan ini ada tiga hal yang harus diperhatikan,
yaitu sebagai berikut:
1. Sudut pandang ekstrim kaum Romantik yang
menganggap sastra sama derajatnya dengan karya pendeta atau nabi. Karena itu,
sastra harus berfungsi sebagai pembaharu dan perombak;
2. Sastra sebagai penghibur
saja;
3. Sastra harus mengajarkan sesuatu dengan cara
menghibur.
Menurut Ratna (2003: 332) ada beberapa hal yang harus
dipertimbangkan mengapa sastra memiliki kaitan erat dengan masyarakat dan
dengan demikian harus diteliti dalam kaitannya dengan masyarakat, sebagai
berikut:
1. Karya sastra ditulis oleh pengarang,
diceritakan oleh tukang cerita, disalin oleh penyalin, dan ketiganya adalah
anggota masyarakat.
2. Karya sastra hidup dalam masyarakat,
menyerap aspek-aspek kehidupan yang terjadi dalam masyarakat yang pada
gilirannya juga di fungsikan oleh masyarakat.
3. Medium karya sastra baik lisan maupun
tulisan dipinjam melalui kompetensi masyarakat yang dengan sendirinya telah
mengandung masalah kemasyarakatan.
4. Berbeda dengan ilmu pengetahuan, agama,
adat-istiadat dan tradisi yang lain, dalam karya sastra terkandung estetik,
etika, bahkan juga logika. Masyarakat jelas sangat berkepentigan terhadap
ketiga aspek tersebut.
5. Sama dengan masyarakat, karya sastra
adalah hakikat intersubjektivitas, masyarakat menemukan citra dirinya dalam
suatu karya.
Berdasarkan uraian tersebut dapat dikatakan bahwa
sosiologi sastra dapat meneliti melalui tiga perspektif. Pertama,
perspektif teks sastra, artinya peneliti menganalisisnya sebagai sebuah
refleksi kehidupan masyarakat dan sebaliknya. Kedua, persepektif
biologis yaitu peneliti menganalisis dari sisi pengarang. Perspektif ini akan
berhubungan dengan kehidupan pengarang dan latar kehidupan sosial, budayanya. Ketiga,
perspektif reseptif, yaitu peneliti menganalisis penerimaan masyarakat terhadap
teks sastra.
Tiga Sudut Pandang Perspektif
1. Perspektif karya sastra, artinya
peneliti menganalisi karya sastra sebagai sebuah refleksi kehidupan masyarakat
dan sebaliknya.
2. Perspektif pengarang yakni, peneliti
menganalisis pengarang, persoalan-persoalan yang berhubungan dengan sejarah
kehidupan pengarang dan latar belakang sosialnya yang bisa mempengaruhi
pengarang dan isi karya sastranya.
3. Perspektif pembaca, yakni penelitian
menganalisis penerimaan masyarakat terhadap teks sastra dan pengaruh sosial
karya sastra.
·
Teori Strukturalisme
Genetik : memasukan faktor genetic dalam upaya memahami karya sastra. Genetic
sastra artinya asal-usul karya sastra yang ditentukan oleh faktor-faktor,antara
lain pengarang dan kenyataan sejarah yang turut mengkondisikan karya sastra
saat diciptakan. Latar belakang sejarah, zaman, dan sosial masyarakat
berpengaruh terhadap proses penciptaan karya sastra baik dari segi isi maupun
segi bentuknya atau strukturnya.
Langkah-langkah yang ditempuh dalam penerapan teori
strukturalisme genetik adalah:
1. Penelitian harus dimulai dari kajian
unsur intrinsik sastra, baik secara parsial maupun dalam jalinan keseluruhan.
2. Mengkaji latar belakang kehidupan
sosial kelompok pengarang karena pengarang merupakan bagian dari komunitas
kelompok tertentu.
3. Mengkaji latar belakang sosial dan
sejarah yang turut mengkondisikan karya sastra saat diciptakan oleh pengarang.
Dari ketiga langkah tersebut akan diperoleh abstraksi pandangan dunia pengarang
yang di perjuangkan oleh tokoh problematik.
·
Teori strukturalisme
fungsional
1. Menganggap struktur kelembagaan sastra
sebagai sistem campuran yang berbeda dengan struktur lembaga-lembaga sosial
lainnya, seperti keluarga, politik, dan ekonomi.
2. Sastra sebagai struktur institusional
harus memperhitungkan produk sastra sebagai objek atau proses pengalaman
estetik dan sebagai mata rantai yang esensial dalam suatu jaringan
hubungan-hubungan sosial dan cultural yang meluas.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Hakikat sosiologi dan sastra sangat
berbeda bahkan bertentangan secara dianetral. Sosiologi adalah ilmu objektf
kategoris, membatasi diri pada apa yang terjadi dewasa ini (das sain)
bukan apa yang seharusnya terjadi (das solen). Sebaliknya karya sastra
bersifat evaluatif, subjektif, dan imajinatif.
Sosiologi sastra dapat meneliti melalui
tiga perspektif. Pertama, perspektif teks sastra, artinya peneliti
menganalisisnya sebagai sebuah refleksi kehidupan masyarakat dan sebaliknya. Kedua,
persepektif biologis yaitu peneliti menganalisis dari sisi pengarang.
Perspektif ini akan berhubungan dengan kehidupan pengarang dan latar kehidupan
sosial, budayanya. Ketiga, perspektif reseptif, yaitu peneliti
menganalisis penerimaan masyarakat terhadap teks sastra.
Didalam sosiologi sastra memiliki
beberapa teori pendekatan, diantaranya: teori strukturalisme genetik dan teori
strukturalisme fungsional.
0 komentar:
Posting Komentar